
Ku raba perlahan jari manis tangan kananku. Sebentuk cincin ada di sana. Cincin emas putih sederhana, tanpa semata berlian pun. Hanya sebentuk cincin emas putih.
Aku ingat 2 tahun yang lalu, kekasih hatiku memasangkan cincin itu di jari manisku sesaat setelah ijab. Haru dan bahagia yang kurasa. Air mata menetes di kedua pipiku, air mata bahagia.
Beberapa hari yang lalu, teman-teman lamaku mengundang untuk bertemu. Kami ketemuan di sebuah cafe di bilangan Jakarta Selatan. Hmmm....menarik, karena waktu yang lama ternyata bisa mengubah seseorang. Dari seorang biasa, menjadi seorang yang gemerlap. Karena pakaian dan perhiasannya ataukah karena memang seperti itu lah dia.
Teman-temanku saling bercerita tentang keberhasilan pekerjaannya, mobil-mobil yang memenuhi garasi rumah mewahnya, suami-suami kayanya, liburan di luar negerinya bahkan secara tersirat dengan beberapa gaya yang janggal mereka memamerkan cincin kawin yang gemerlap terkena lampu. Tadinya aku tertawa dalam hati melihat kelakuan mereka. Tapi sedetik kemudian, tiba-tiba aku malu jika mereka harus melihat jari manisku. Perlahan, kubuka cincinku dan masuk ke kantong celana panjangku. Kulakukan semua itu secara perlahan. Sampai kemudian, temanku menanyakan tentang bulan maduku 2 tahun yang lalu. Diantara kami, memang akulah yang terakhir menikah.
Rasanya lidah ini kelu untuk mengatakan bahwa hanya Bandung tempatku berbulan madu. Hanya kamar di Hotel Panghegar tempat kami memadu kasih dan bercanda ria. Hanya makan sate di pinggir jalan kota bandung tempat kami makan malam. Hanya membelikan beberapa potong celana cargo buat kakak & adik kami. Tiba-tiba aku malu untuk menceritakan itu semua.
Aku hanya tersenyum kecil. Bahkan saat seorang temanku menanyakan mengapa tak ada sebentuk cincinpun di jari manisku, aku hanya bisa tersenyum. Rasanya waktu berjalan lambat sekali. Rasanya musik lembut yang mengalun di cafe menyakitkan gendang telinga ku. Rasanya aku ingin berlari, meninggal semua teman-temanku.
Kemudian Ringtone hape pun berdering, seorang temanku langsung mengambil Nokia keluaran terbarunya yang besarnya lebih besar dari game tetris jaman aku SD dulu. Dari rekan bisnis, serunya tertahan saat mata-mata kami memandangnya. Dan seperti tidak mau kalah ke-3 temanku lainnya berganti2 mengeluarkan hape mereka. Hhhhh....rasanya tak ada yang bisa membuat teman2ku iri terhadapku.
Pekerjaanku biasa-biasa saja. Suamipun bukan lah suami yang kaya yang memiliki harta berlimpah. Terlintas anganku, andai Cintaku memiliki segala materi....
Saat kami kembali berbincang, hape sederhana ku berdering. Kedelapan pasang mata itupun melirik arah tanganku yang mengeluarkan hape lama, hadiah dari Suamiku saat aku berulang tahun January lalu. Wajahnya tampak di monitor. Ia menanyakan keadaanku, sudah makankah, mengingatkan untuk tidak minum soda dan alkohol karena maagku. Mewanti-wanti aku untuk segera menelponnya saat pertemuan dengan teman2 selesai sehingga aku tidak perlu lama menunggu dia menjemputku. Menanyakan ingin dibawakan apa saat ia pulang nanti. Tiba-tiba aku merasa bersalah......
Cincin mas putih yang ada di saku celanaku, segera kupakai lagi. Cincin sederhana tanpa hiasan berlian, namun ada berlian yang gemerlap dari hati Sang Pemberinya. Cincin putih sederhana namun penuh kasih sayang. Cincin putih sederhana namun selalu ada saat aku membutuhkannya.
Tiba-tiba saja aku tak lagi peduli akan ke-4 teman, yang melihat dengan pandangan iri saat kututup telponku dengan senyum mengembang dan membalas ucapan Miss U 2.
Tuhan, aku merasa bersalah telah ber iri hati terhadap teman2ku. Aku pun telah begitu banyak mendapat Karunia-Mu. Mendapat cinta dari laki-laki yang kucintai, yang ku tahu akan memberikan bahunya untukku bersandar.
Posts by Rienz | 6:52 PM